» Halaman Statis


Monev survai

Administrator | Jumat, 05 Agustus 2016 - 15:51:23 WIB | dibaca: 339 pembaca>

Diperlukan suatu sistem survailans penyakit yang mampu memberikan dukungan program dan kerjasama lintas program maupun lintas sektor sebagai upaya penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular maupun tidak menular serta masalah kesehatan lainnya. Kerjasama yang sinergis terkait kewaspadaan dan kesiapsiagaan antara masyarakat dan petugas dalam melaksanakan pengamatan terus menerus, mengidentifikasi, menentukan prioritas serta upaya penanggulangan masalah kesehatan merupakan kegiatan survailans secara terpadu.
Desa Siaga merupakan wadah pemberdayaan masyarakat yang memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan. Melalui Desa Siaga dibentuk suatu kelompok kerja survailans yaitu Survailans Berbasis Masyarakat (SBM) yang diharapkan dapat bersinergi dengan Puskesmas sebagai institusi terdepan dalam pencegahan dan penanganan masalah kesehatan.
Survailans Berbasis Masyarakat (SBM) dalam melaksanakan tugasnya diharapkan dapat memberikan informasi yang cepat, tepat, valid untuk mencegah dan menanggulangi masalah kesehatan secara dini kurang dari 24 jam. Sehingga dalam pelaksanaannya diperlukan kegiatan monitoring dan evaluasi untuk senantiasa menjaga kinerja Survailans Berbasis Masyarakat (SBM).
Tugas SBM adalah membantu petugas kesehatan dalam melakukan pengamatan dan pemantauan kondisi kesehatan dengan berperan aktif dalam menyiapkan dan melaksanakan Survei Mawas Diri (SMD) terhadap faktor risiko penyakit di lingkungan sekitarnya. SBM juga turut menggerakan masyarakat di lingkungan sekitarnya untuk melakukan tindakan preventif penyakit.
Melalui SBM masyarakat menjadi lebih peka terhadap tanda-tanda masalah kesehatan dan faktor risiko kesehatan di wilayah kelurahan secara dini. Dengan demikian masyarakat dapat dengan segera melaporkan tanda-tanda masalah kesehatan dan faktor risiko kesehatan kepada petugass kesehatan serta dapat segera dilakukan upaya pencegahan dan penanggulangan dini.
Periode Bulan Januari – September Tahun 2015, SBM Kota Blitar menunjukkan kinerja yang baik. Meskipun sebanyak 5 kelurahan belum lengkap mengumpulkan laporannya, yaitu Kelurahan Karangtengah, Kelurahan Karangsari, Kelurahan Pakunden, Kelurahan Sentul, dan Kelurahan Kepanjenkidul. Hal ini disebabkan beberapa hal. Salah satunya adalah karena adanya pergantian Kader SBM maupun karena ketidaktahuan Kader SBM bahwa laporan SBM tidak hanya dikumpulkan di Puskesmas tetapi juga di Dnas Kesehatan.
Peranan aktif SBM secara nyata ditunjukkan oleh laporan SBM Kelurahan Kauman pada awal bulan September 2015 tentang KLB Keracunan Makanan di sebuah Pondok Pesantren. Melalui informasi tersebut petugas survailans Dinas Kesehatan beserta Puskesmas dapat segera melakukan penyelidikan epidemiologi dan penderita keracunan makanan dapat segera diberikan pengobatan.